Minggu, 05 Oktober 2014

Fieldtrip

Pada hari kamis 2 oktober 2014 saya pergi ke kampung betawi 
Disana kami belajar tentang budaya betawi dan mencoba makanan khas betawi sepeti es potong dan kerak telor 
Ini adalah fto kelompok kami saat di kampung betawi 


Jumat, 03 Oktober 2014

PERTEMUAN 9 EKSISTENSIALISME

EKSISTENSIALISME MENURUT KIRKEGAARD

Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang pokok utamanya adalah manusia dan cara beradanya yg khas di tengah makhluk lainnya. Jiwa eksistensialisme ialah pandangan manusia sbg eksistensi.

Etimologis: ex= keluar, sistentia (sistere)=berdiri. Manusia bereksistensi = manusia baru menemukan diri sbg aku dengan keluar dr dirinya.

Pusat diriku terletak di luar diriku. Ia menemukan pribadinya dg seolah2 keluar dr dirinya sendiri dan menyibukkan diri dg apa yg diluar dirinya.

Hanya manusialah bereksistensi. Eksistensi tdk bisa disamakan dg ‘berada’. Pohon, anjing berada, tapi tidak berseksistensi.

CIRI-CIRI EKSISTENSIALISME

· Motif pokok adalah eksistensi, cara manusia berada. Hanya manusia bereksistensi.

· Bereksistensi hrs diartikan scr dinamis. Bereksistensi berarti menciptakan diri scr aktif, berbuat, menjadi, merencanakan.

· Manusia dipandang terbuka, belum selesai. Manusia terikat pd dunia sekitarnya, khususnya pd sesamanya.

· Memberi penekanan pd pengalaman konkrit.

TIGA CARA BEREKSISTENSI

· Sikap estetis: Merengguh sebanyak mungkin kenikmatan, yg dikuasai oleh perasaan. Cara hidup yg amat bebas. Manusia hrs memilih hidup terus dg kenikmatan atau meloncat ke tingkat lebih tinggi lewat pilihan bebas.

· Sikap etis: Sikap menerima kaidah2 moral, suara hati dan memberi arah pd hidupnya. Ciri khasnya menerima ikatan perkawinan. Manusia sdh mengakui kelemahannya, tp belum melihat cara mengatasinya. Bila ia mengakui butuh pertolongan dr atas, maka ia loncat ke sikap hidup religius.

· Sikap religius: Berhadapan dg Tuhan, manusia sendirian. Krn manusia religius percaya pada Allah, maka Allah memperlihatkan diriNya pada manusia. Percaya model A ialah Allah hadir dimana-mana. Yang sukar adalah percaya model B: percaya bhw Allah menerima wajah manusiawi dlm Yesus agar bs berjumpa dg Dia. Kita percaya model B, bila kita percaya bhw kita yg lahir dlm waktu bisa menjadi abadi. Kita bs menjadi spt yang kita percayai.



EKSISTENSIALISME MENURUT JEAN PAUL SARTRE

PEMIKIRAN FILSAFAT SARTRE

Bagi Sartre, manusia mengada dengan kesadaran sbg dirinya sendiri. Keberadaan manusia berbeda dg keberadaan benda lain yg tdk punya kesadaran. Untuk manusia eksistensi adalah keterbukaan, beda dg benda lain yg keberadaannya sekaligus berarti esensinya. Bagi manusia eksistensi mendahului esensi. Asas pertama utk memahami manusia hrs mendekatinya sbg subjektivitas. Apapun makna yg diberikan pd eksistensinya, manusia sendirilah yang bertanggungjawab

“ tanggung jawab menjadi beban kita jauh lebih besar dari sekedar tanggung jawab terhadap diri kita sendiri.” Sartre

APAKAH YANG MENGURANGI KEBEBASAN MANUSIA?

Beberapa kenyataan (kefaktaan) yg mengurangi penghanyatan kebebasan:

1) Tempat kita berada: situasi yg memberi struktur pd kita, tp juga kita beri struktur.

2) Masa lalu: tdk mungkin meniadakannya krn masa lampau menjadikan kita sebagaimana kita sekarang ini.

3) Lingkungan sekitar (Umwelt):

4) Kenyataan adanya sesama manusia dg eksistensinya sendiri.

5) Maut: tdk bisa ditunggu saat tibanya, walaupun pasti akan tiba.

Walaupun kefaktaan ini melekat dlm eksistensi manusia, tapi kebebasan eksistensial tdk bisa dikurangi/ditiadakan.

KETUBUHAN MANUSIA

Dalam eksistensi manusia, kehadiran selalu menjelama sbg wujud yg bertubuh. Tubuh mengukuhkan kehadiran manusia.Tubuh sbg pusat orientasi tdk bisa dipandang sbg alat sematamata,tp mengukuhkan kehadiran kita sbg eksistensi.

KOMUNIKASI DAN CINTA

· Komunikasi = suatu hal yg apriori tak mungkin tanpa adanya sengketa, krn setiap kali org menemui org lain pd akhirnya akan terjadi saling objektifikasi, yg seorg seolah2 membekukan org lain. Terjadi saling pembekuan shg masing2 jadi objek.

· Cinta = bentuk hubungan keinginan saling memiliki (objek cinta). Akhirnya cinta bersifat sengketa krn objektifikasi yg tak terhindarkan.






PENGETAHUAN DAN INTELEGENSI MANUSIA

PENGETAHUAN DAN INTELEGENSI MANUSIA

Pengetahuan adalah perseptif ketika muncul secara spontan,untuk kita menyesuaikan diri kita secara langsung dengan situasi yang disajikan dan menyatakan diri nya lebih melalui gerakan tangan,tingkah laku,gerak-gerakan,sifat-sifat,tindakan,dan jerit teriakan daripada dengan perkataan yang dipikirkan keterangan yang jelas.

Pengetahuan reflektif adalah ketika dia membuat obyek kodrat dari manusia realitas apapun juga dan mengungkapkan nya dalam bentuk ide,konsep,definisi dan putusan maupun bentuk lambang,mitos atau karya seni.

Pengetahuan diskurtif adalah ketika dia memperhatikan suatu obyek dar benda kemudian suatu aspek yang lain ketika dia pergi dan datang dari keseluruhan ke bagian-bagian dan dari bagian-bagian.

Pengetahuan adalah induitif ketika ia merangkap dan memahami secara langsung benda atau situasi dalam salah satu aspek,keseluruhan dalam suatu bagian,konsekwensi atau prinsip dan lain-lain.

Pengetahuan adalah induktif ketika ia menarik yang universal dari yang individual,sedangkan deduktif ketika ia menarik dari yang umum ke universal

ARTI PENGETAHUAN

Pengetahuan adalah :

· Suatu kegiatan yang mempengaruhi subjek dalam dirinya.

· Sesuatu kentetuan yang memperkaya eksistensi subjek.

· Suatu kesempurnaan yang mengembangkan eksistensi.

PENGETAHUAN DARI SEGI SUBJEK

Yang menyebabkan sesuatu menjadi diketahui adalah bentuk esidosnya atau morphe(Yunani),species(Ltn) yang berarti aspek dari satu benda dan apa yang dibentuk oleh benda dan apa yang ada pada benda itu memiliki kekhasan. Bentuk dari satu benda itu menunjukan kepada kita orientasi,tujuan dan arti benda itu. Benda suatu benda adalah bukan hanya apa yang memberi kodrat,tetapi juga memberikan kegiatan dan tujuan tertentu kepadanya.

BUKAN INTELEGENSI MANUSIA

Pengetahuan manusia adalah sekaligus indrawi dan intelektif.Pengetahuan indrawi dan pengetahuan intelektif bersifat sinergis,berkat indrawi pengetahuan manusia menyerupai pengetahuan hewan dan berkat keduanya(indrawi dan intelektif)

Sifat khas dari pancaindra adalah mencapai langsung kualitas ini atau itu dari obyek konkret yang sedang ditunjukan kepadanya,sedangkan sifat dari intelegensi menangkap kodrat obyek dan tetap menyimpannya dari dalam dirinya sehingga dapat dipertimbangkan baik dirinya obyek masih ada atau tidak.

SIFAT DAN OBJEK INTELEGENSI MANUSIA

Intelegensi manusia dewasa terletak pada obyeknya, orang dapat melihathak-hak yang dalam pada dirinya sendiri. Intelligere berasal kata “intus” berarti dalam. Legere berarti membaca dan menangkap. Intellegere arti nya “membaca” dimensi dalam segala hal dan menangkap artinya yang dalam.

PRINSIP PENEGASAN,PENILAIAN, SIMPULAN DAN PENALARAN

· Prinsip Identitas

· Prinsip alasan yang mencukupi

· Prinsip kausilitas efisien

· Prinsip-prinsip bersifat efiden,karena tidak dapat disangka tanpa dipergunakan sebagai alasan sangkalannya.






Jumat, 26 September 2014

PERTEMUAN 8

MANUSIA DAN AFEKTIVITASNYA

Afektivitaslah yg membuat manusia ‘berada’ di dunia, berpartisipasi dg org lain. Afektifitaslah yg mendorong org utk mencintai, mengabdi dan menjadi kreatif. Afektivitas termasuk kegiatan yg kompleks. Seluruh kehidupan afektif berputar pd dua kutub yg bertentangan satu sama lain: mengarah pd obyek krn menyukainya, atau berpaling drnya krn menganggapnya buruk. Cinta = buah afektivitas positif, benci= buah afektivitas negatif. Sebenarnya cintalah yg paling dasariah.

BUKAN PERBUATAN AFEKTIF

Cinta membuktikan diri dlm perbuatan2. Cinta mendahului perbuatan. Kerap afektivitas itu disamakan dengan kesanggupan merasa: Padahal kehidupan afektif bukan hanya menyangkut merasa saja, tapi juga menyangkut hal yg spiritual.

PERBUATAN AFEKSI

Hidup afektif atau afektivitas=seluruh perbuatan afektif yg dilakukan subyek sehingga subyek ditarik oleh obyek atau sebaliknya.Perbuatan afektif sedikit mirip dg ‘perbuatan mengenal’ krn dianggap perbuatan vital/imanen. Tapi perbuatan afektif beda dg ‘perbuatan mengenal’ krn perbuatan afektif itu lebih pasif, sedangkan pada ‘perbuatan mengenal’ subyek membuka diri pd obyek.

KONDISI AFEKTIVITAS MANUSIA

Agar ada afektivitas, perlu suatu ikatan kesamaan antara subyek dan obyek perbuatan afektifnya. Apakah kesenangan harus dicurigai? Saya hidup dibawah ‘cara afektif’ kesenangan, bila sy sungguh bersatu dlm perasaan dan pikiran dengan apa yg baik bagi saya. Kesenangan=perasaan yg dialami subyek bila dia dihinggapi oleh keadaan berada lebih baik.

KEBEBASAN

JIWA DAN KEBEBASAN

Eksistensi jiwa dalam tubuh memampukan manusia untuk menghadirkan diri secara total di dunia dan memungkinkan manusia menentukan perbuatannya Dalam fungsi menentukan perbuatan, jiwa berhubungan dengan kehendak bebas Karena jiwalah manusia menjadi mahluk bebas Kebebasan itu mendasar bagi manusia dan merupakan penting humanisme

DETERMINISME

determinisme: aliran yang menolak kebebasan sebagai kenyataan hidup bagi manusia. Setiap peristiwa, termasuk tindakan dan keputusan manusia disebabkan oleh peristiwa-peristiwa lainnya.

Seluruh kegiatan manusia di dunia berjalan menurut keharusan yang bersifat deterministik

· Determinisme fisik-biologis

· Determinisme psikologis

· Determinisme sosial

· Determinisme teologis

Kelemahan determinisme:

· Menyangkal sifat multidimensional dan paradoksal manusia (paradoks tidak meniadakan kebebasan juga keharusan, bukan?)

· Menyangkal bahwa manusia selalu melakukan evaluasi dan penilaian terhadap tindakannya

· Menafikan adanya tanggung jawab (tak relevan menuntut tanggung jawab atas kesalahan, bukan?)

ARTI KEBEBASAN

Pengertian umum/Kebebasan negatif/tidak ada hambatan (tidak ada paksaan, tidak ada hambatan, tidak ada halangan, tidak ada aturan). Tapi ini bukan kebebasan eksistensial

Pengertian khusus/kebebasan eksistensial

· Penyempurnaan diri (ingat filsafat proses Whitehead?)

· Kesanggupan memilih dan memutuskan

· Kemampuan mengungkapkan berbagai dimensi kemanusiaan (kebebasan/hak-hak dasar seperti ditegaskan Franz Magnis-Suseno)

JENIS JENIS KEBEBASAN

1. Kebebasan horizontal (berkaitan dengan kesenangan dan kesukaan, bersifat spontan, semata pertimbangan intelektual) dan kebebasan vertikal (pilihan moral, pertimbangan tujuan, tingkatan nilai
2. Kebebasan eksistensial (kebebasan positif, lambang martabat manusia) dan kebebasan sosial (terkait dengan orang lain, kebebasan
3. Nilai humanistik dalam kebebasan eksistensial

· Melibatkan pertimbangan

· Mengedepankan nilai kebaikan

· Menghidupkan otonomi

· Menyertakan tanggung jawab

KEBEBASAN SOSIAL

Kebebasan sosial dibatasi dalam hal fisik, psikis dan normatif

4 alasan adanya pembatasan kebebasan sosial:

· Menyertakan pengertian

· Memberi ruang bagi kebebasan eksistensial

· Menjamin pelaksanaan keadilan bagi masyarakat

· Terkait dengan hakikat manusia sebagai mahkhluk sosial

SEJARAH PERKEMBANGAN MASALAH KEBEBASAN

1. Zaman abad pertengahan, masalah kebebasan dilihat dalam perspektif teosentrik

2. Zaman modern, perspektif teosentrik digantikan oleh perspektif antroposentrik

3. Era kontemporer (pascamodern?), kebebasan dipermasalahkan dari sudut pandang sosial

4. Kebebasan dalam pemikiran Timur cenderung dilihat sebagai pembebasan dari kendala keinginan egoistik dan dari kecemasan untuk mencapai kesatuan dan pengendalian diri

DIALOG BADAN DAN JIWA

Disuatu siang yang panas,jiwa dan badan sedang duduk bersama menikmati cerahnya hari.
Jiwa dan badan berbicara dengan riang sambil tertawa.
(J) = Jiwa, (B) = Badan.
J = Hey badan, kamu pernah berpikir tidak apa jadi nya kalau kita terpisah? Apakah kita akan tetap bersama?
B = Aku tidak pernah berpikir sampai sejauh itu. Selama waktu berjalan kita akan tetap bersama ya ji.
J = Persahabatan kita sudah lama ba,kamu dan aku itu tak dapat terpisahkan. Aku akan selalu disini.
B = Kamu tanpa aku juga tidak berwujud, dan aku tanpa kamu tidak bernyawa.
J = Benar juga ya,nanti saat aku pergi tahan aku yaa.
B = Semampu aku akan selalu menahan dan melindungi mu dari maut.
J = so sweet, aku bahagia mempunyai sahabat seperti kamu.
Lalu mereka saling berjanji kembali untuk selalu saling melindungi dan menasehati.
Ke esokan pagi nya jiwa dan badan bercakap kembali.
B = Hay jiwa, kamu tau tidak? Hari seluruh otot-otot ku sakit.
J = Kenapa ? apa yang kamu lakukan ?
B = Hari ini aku berolahraga,aku berkeliling GBK senayan,disana aku berkenalan dengan Badan Amira. Badan Amira kecil dan pendek,tapi aku senang dengan badan amira karena argesif dan lincah.
J = wah seru ya,boleh kita nanti ketemu dan berbicara bersama. Aku ingin menambah teman baru juga nih.
B = Wah kalau kamu punya teman baru,jangan lupakan aku ya.
J = ya engga lah,kalau aku lupakan kamu berarti kita terpisah dong? Kita kan tidak dapat terpisahkan tauu badan. Hehehe
B = Oh ya kamu benar ya. Jiwa, aku ingin beristirahat dulu ya. Seluruh tenaga ku telah habis.
J = Selamat beristirahat. Setelah beberapa saat setelah badan beristirahat,jiwa dan badan pun bertemu dengan badan dan jiwa Amira. Mereka berempat pun menjadi sahabat sejat

PERTEMUAN 7


FILSAFAT MANUSIA

fIlsafat manusia adalah Bagian filsafat yang mengupas apa arti manusia/menyoroti hakikat atau esensi manusia. Memikirkan tentang asal-usul kehidupan manusia (origin of human life), hakikat hidup manusia (the nature of human life), dan realitas eksistensi manusia. Hasrat untuk tahu siapa dan apakah manusia. Maka, filsafat manusia menanyakan pertanyaan krusial tentang dirinya sendiri dan secara bertahap memberi jawaban bagi diri sendiri.

ISTILAH TERKAIT FILSAFAT MANUSIA

Dulu: Psikologi filosofis dan Psikologi rasional

Sekarang: Filsafat manusia dan Antropologi filofis

METODE FILSAFAT MANUSIA

Sebagai bagian dari filsafat, cara kerja filsafat manusia juga sama dengan filsafat pada umumnya. Yaitu: refleksi, analisa transendental dan sintesa. Juga: ekstensif, intensif dan kritis

OBJEK FILSAFAT MANUSIA

¡ Objek material: manusia

¡ Objek formal: esensi manusia, strukturnya yang fundamental

¡ Struktur fundamental bukan fisik melainkan struktur metafisik yakni intisari, struktur dasar, bentuk terpenting manusia, dinamisme primordial manusia yang diketahui melalui daya pikir, bukan penginderaan.

KATA MAX SCHELER DAN HEIDEGGER


Tak ada zaman, seperti zaman sekarang di mana manusia menjadi pertanyaan bagi dirinya sendiri atau menjadi problematik bagi dirinya. Tak ada pula masa di mana di tengah kemajuan yang pesat mengenai manusia, manusialah paling kurang tahu tentang dirinya dan tentang identitasnya



Kata A. Heschel tentang filsafat manusia dalam “Who is man?” Stanford University Press, 1965

“filsafat mempunyai perhatian terhadap manusia dalam totalitasnya, bukan dalam aspek ini atau itu. setiap ilmu terspesialisasi (antropologi, linguistik, fisiologi, kedokteran, psikologi, sosiologi, ekonomi, ilmu politik), betapapun kerasnya usaha mereka, mereka tetap membatasi totalitas dari individu dengan memandangnya dari segi salah satu fungsi, atau dari dorongan tertentu. Pengetahuan kita tentang manusia terpecah-pecah: kerapkali kita menggantikan keseluruhan dengan salah satu bagian. Kita berusaha menghindari kesalahan itu”





JIWA DAN BADAN

Badan dan jiwa = satu kesatuan yg membentuk pribadi manusia. Kesatuan keduanya membentuk keutuhan pribadi manusia.

MONISME

aliran yg menolak pandangan bhw badan dan jiwa merupakan dua unsur yg terpisah. Badan dan jiwa adalah satu substansi. Keduanya satu kesatuan yg membentuk pribadi manusia.

Tiga bentuk aliran ini:

· Materialisme = menempatkan materi sbg dasar bagi sgala hal yg ada (fisikalisme). Manusia juga bersumber pd materi. Manusia tdk pernah melampaui potensi jasmaninya. Jiwa tdk punya eksistensi sendiri. Jiwa bersumber dr materi. Eksistensi jiwa bersifat kronologis (hasil hub sebab akibat). Reduksi humanitas pd dimensi fisik punya implikasi negatif pd penilaian atas aktivitas mental.

· Teori identitas = menekankan hal berbeda dr materialisme, tp mengakui aktivitas mental manusia. Ini menjadi ciri khas manusia. Letak perbedaan jiwa dan badan hanya pd arti bukan referensi. Badan dan jiwa merupakan dua elemen yg sama.

· Idealisme = ada hal yg tdk dpt diterangkan semata berdasarkan materi, spt pengalaman, nilai dan makna. Itu hanya punya arti bila dihubungkan dg sesuatu yg imaterial yaitu jiwa. Rene Descartes dg cogito ergo sumnya menjadi peletak dasar dr idealisme.



DUALISME

badan dan jiwa adalah dua elemen yg berbeda dan terpisah. Perbedaannya ada dlm pengertian dan objek.

Empat cabang:

· Interaksionisme =fokus pd hubungan timbal balik antara badan dan jiwa. Peristiwa mental bs menyebabkan peristiwa badani dan sebaliknya.

· Okkasionalisme = memasukkan dimensi ilahi dlm membicarakan hub badan dan jiwa. Hub peristiwa mental dan fisik bisa terjadi dengan campur tangan ilahi.

· Paralelisme = sistem kejadian ragawi terdapat di alam, sedangkan sistem kejadian kejiwaan ada pd jiwa manusia. Dlm diri manusia ada dua peristiwa yg berjalan seiring yaitu peristiwa mental dan fisik, namun satu tdk jd sumber bagi lainnya.

· Epifenomenalisme = melihat hub jiwa dan badan dari fungsi syaraf. Satu2nya unsur utk menyelidiki proses kejiwaan adalah syaraf.

Pandangan monisme bertentangan dg hakekat manusia sesungguhnya. Plato berkata, badan dan jiwa punya sifat yg berbeda. Badan sementara, jiwa abadi. Kelemahan materialisme= tdk bisa melihat bhw pengalaman bersifat personal. Pandangan dualisme, khususnya paralelisme yg mengatakan badan jiwa dua hal yg terpisah, tdk terkait, sulit diterima. Perbuatan baik muncul dr niat yang baik. Manusia adalah makhluk rohani dan jasmani sekaligus.

BADAN MANUSIA

badan=kumpulan berbagai entitas material yg membentuk makluk. Mekanisme gerakan badan bersifat mekanistik. Pandangan ini tdk memberikan pandangan utuh ttg manusia. Badan hrs dimengerti melebihi dimensi fisik. Badan menyangkut keakuan. Membicarakan tubuh adalah membicarakan diri (Gabriel Marcel).

JIWA MANUSIA

Badan manusia tdk memiliki apa-apa tanpa jiwa. Tidak ada keakuan bila dilepaskan dari jiwa. Dlm pandangan tradisional jiwa – makluk halus, tdk bs ditangkap indera. Konsep ini menempatkan jiwa di luar hakekat manusia. Ini ditolak. Jiwa harus dipahami sbg kompleksitas kegiatan mental manusia. Jiwa menyadarkan manusia siapa dirinya.

James P Pratt menunjuk ada empat kemampuan dasar jiwa manusia.

1. menghasilkan kualitas penginderaan.

2. Mampu menghasilkan makna yg berasal dr pengeinderaan khusus

3. mampu memberi tanggapan thdp hasil penginderaan.

4. memberi tanggapan pd proses yg terjadi dlm pikiran demi kebaikan.

Agustinus: manusia hanya bs melakukan penilaian thdp tindakannya krn dorongan dr jiwa. Jiwa mendorong manusia utk melakukan hukum-hukum moral yg diketahui. Praktek moral sehari-hari adalah tanda berfungsinya jiwa dlm diri seseorg. Kemampuan jiwa menunjukkan bhw kegiatan manusia bukan mekanistik.

 



PERTEMUAN 6



ETIKA DAN MORAL

ETIKA

ETIKA berasal dari bahasa Yunani yaitu “ETHOS” yang memiliki arti kebiasaan. Istilah Moral dan Etika sering diperlakukan sebagai dua istilah yang sinonim. Hal-hal yang perlu diperhatikan adanya suatu nuansa dalam konsep dan pengertian moral dan etika; Moral/Moralitas biasanya dikaitkan dengan system nilai tentang bagaimana kita harus hidup secara baik sebagai manusia. Etika adalah sebuah refleksi kritis dan rasional mengenai nilai dan norma moral yang menentukan dan terwujudnya dalam sikap dan pola perilaku hidup manusia, baik secara pribadi maupun sebagai kelompok

TUJUAN MEMPELAJARI ETIKA

Untuk menyamakan persepsi tentang penilaian perbuatan baik dan perbuatan buruk bagi setiap manusia dalam ruang dan waktu tertentu dan Sebagai ilmu, etika bersifat kritis dan metodis.

BERDASARKAN KAJIAN ILMU

1. Etika Normatif: mempelajari secara kritis dan metodis norma-norma yang ada, untuk dapat norma dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka sebagai ilmu, etika bersifat kritis dan metodis.

2.Etika Fenomenologis: mempelajari secara kritis dan metodis gejala-gejala moral seperti suara hati kesadaran moral, kebebasan, tanggung jawab, norma-norma, dsb.

3. Etika Deskriptif; Berusaha meneropong secara kritis dan rasional sikap dan pola prilaku manusia dan apa yang dikejar oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai. Etika Deskriptif berbicara mengenai fakta apa adanya, yaitu mengenai nilai dan pola perilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait dengan situasi dan realitas konkrit yang membudaya. Ia berbicara mengenai kenyataan penghayatan nilai, tanpa menilai, dalam suatu masyarakat, tentang sikap orang dalam menghadapi hidup ini, dan tentang kondisi-kondisi yang memungkinkan manusia bertindak secara etis.

ETIKA UMUM

berbicara mengenai kondisi-kondisi dasar, teori-teori etika dan prinsip-prinsip moral dasar yang menjadi pegangan bagi manusia dalam bertindak serta tolak ukur dalam menilai baik atau buruknya suatu tindakan.

ETIKA KHUSUS,

merupakan penerapan prinsip-prinsip moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus

etika khusus dibagi lagi menjadi dua bagian :

• Etika individual, yaitu menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap dirinya sendiri.

• Etika sosial, yaitu berbicara mengenai kewajiban, sikap dan pola perilaku manusia sebagai anggota umat manusia.

ETIKA PROFESI

Etika Profesi adalah : Etika sosial yg menyangkut hubungan antar manusia dalam satu lingkup profesi dan masyarakat pengguna profesi tersebut

Ciri-ciri etika profesi :

• Adanya pengetahuan khusus, Biasanya keahlian dan keterampilan ini dimiliki berkat pendidikan, pelatihan dan pengalaman yang bertahun-tahun.

• Adanya kaidah dan standar moral yang sangat tinggi. Hal ini biasanya setiap pelaku profesi mendasarkan kegiatannya pada kode etik profesi.

• Mengabdi pada kepentingan masyarakat, artinya setiap pelaksana profesi harus meletakkan kepentingan pribadi di bawah kepentingan masyarakat.

• Ada izin khusus untuk menjalankan suatu profesi. Setiap profesi akan selalu berkaitan dengan kepentingan masyarakat, dimana nilai-nilai kemanusiaan berupa keselamatan, keamanan, kelangsungan hidup dan sebagainya, maka untukmenjalankan suatu profesi harus terlebih dahulu ada izin khusus.

• Menjadi anggota dari suatu profesi.



PRINSIP-PRINSIP ETIKA PROFESI :

1. Tanggung jawab

• Terhadap pelaksanaan pekerjaan itu dan terhadap hasilnya.

• Terhadap dampak dari profesi itu untuk kehidupan orang lain atau masyarakat pada umumnya.

2. Keadilan.

Prinsip ini menuntut kita untuk memberikan kepada siapa saja apa yang menjadi haknya.

3. Otonomi.

Prinsip ini menuntut agar setiap kaum profesional memiliki dan di beri kebebasan dalam menjalankan profesinya.

MORAL

Moral adalah Norma (biasanya dirumuskan dalam bentuk perintah dan larangan ) untuk menata sikap bathin dan perilaku lahiriah.

Moral dibagi menjadi dua:

1. Moral filosofis didasarkan pada penalaran akal budi dan pengamatan. Mis: moral pancasila

2. Moral teologis didasarkan pada wahyu atau kitab suci yang ditafsirkan oleh otoritas intansi agama

Kamis, 25 September 2014

PERTEMUAN 5


SILOGISME

Silogisme = suatu simpulan dimana dari dua putusan (premis2) disimpulkan suatu putusan yg baru. Prinsip: bila premis benar, maka simpulannya benar. Dua macam silogisme: silogisme kategoris dan silogisme hipotetis.

SILOGISME KATEGORIS

silogisme yg premis dan simpulannya adalah putusan kategoris (pernyataan tanpa syarat).

Contoh: M – P Perbuatan jahat itu haram.

S – M Menghina itu adalah perbuatan jahat.

S – P Maka, menghina itu haram.

Bila penalaran baik, silogisme memperlihatkan alasan dan dasarnya.

1. Silogisme kategoris tunggal: mempunyai dua premis, terdiri atas 3 term S, P, M.

Bentuk-bentuk silogisme kategoris tunggal:

· M adalah S dlm premis mayor dan P dlm permis minor. Aturan: premis minor hrs sbg penegasan, sedang premis mayor bersifat umum.

· M jd P dlm premis mayor dan minor. Aturan: salah satu premis harus negatif. Premis mayor bersifat umum.

· M menjadi S dlm premis mayor dan minor. Aturan: premis minor hrs berupa penegasan dan simpulannya bersifat partikular.

· M adalah P dlm premis mayor dan S dlm premis minor. Aturan: premis minor hrs berupa penegasan, sedangkan Simpulan bersifat partikular.

2. Silogisme kategoris majemuk= bentuk silogisme yg premis2nya sangat lengkap, lebih dr tiga premis.

· Epicherema: silogisme yg salah satu/kedua premisnya disertai alasan.

· Enthymema: silogisme yg dlm penalarannya tdk mengemukakan semua premis scr eksplisit. Salah satu premis/simpulannya dilampaui, disebut juga silogisme yg disingkat.

· Polisilogisme: deretan silogisme dimana simpulan silogisme yg satu menjadi premis utk silogisme yg lainnya.

· Sorites: silogisme yg premisnya lebih dr dua. Putusan2 itu dihubungkan satu sama lain sedemikian, shg predikat dr putusan yg satu jadi subjek putusan berikutnya.


KESESATAN PEMIKIRAN/FALLACIA

Fallacia=kesalahan pemikiran dlm logika, bukan kesalahan fakta, tapi kesalahan atas kesimpulan krn penalaran yg tdk sehat

KESESATAN FORMAL

pelanggaran tdhp kaidah logika, mis. Semua penodong berwajah seram. Semua pengamen berwajah seram. Jadi semua pengamen adalah penodong

KESESATAN INFORMAL

menyangkut kesesatan dlm bahasa. Mis. kesesatan diksi. Contoh sbb:

1. Penempatan kata depan yg keliru: Antara hewan dan manusia memiliki perbedaan.

2. Mengacau posisi subjek atau predikat: Karena tidak mengerjakan PR, guru menghukum anak itu.

3. Ungkapan yg keliru: Pencuri kawakan itu berhasil diringkus polisi minggu yang lalu.

4. Amfiboli: sesat krn struktur kalimat bercabang. Mis. Anto Anak Bu Lasma yang hilang ingatan lari dari rumah.

5. Kesesatan aksen/prosodi: sesat krn penekanan yg salah dlm pembicaraan. Mis. Ada aturan ‘Anda tdk boleh ganggu anak tetangga’. Nah Pak Budi bukan tetangga anda. Maka anda boleh mengganggu anaknya.

6. Kesesatan bentuk pembicaraan:sesat krn org menyimpulkan kesamaan konstruksi juga berlaku bagi yang lain. Mis. Berpakaian artinya memakai pakaian. Bersepeda artinya memakai sepeda. Maka, beristeri artinya memakai isteri.

7. Kesesatan aksiden: yg aksidental dikacaukan dg hal yang hakiki. Mis. Sawo matang adalah warna. Org Indonesia itu sawo matang. Maka, Org Indonesia itu adalah warna.

8. Kesesatan krn alasan yg salah: Konklusi ditarik dr premis yg tak relevan.



KESESATAN PRESUMSI

1. Generalisasi tergesa-gesa: Orang Padang pandai memasak.

2. Non sequitur (belum tentu): Memang saya tidak lulus karena beberapa hari yang lalu saya berdebat dg dosen tsb.

3. Analogi palsu:Membuat isteri bahagia seperti membuat hewan piaraan bahagia dg membelai kepalanya dan memberi banyak makan.

4. Penalaran melingkar (petitio principii): Manusia merdeka krn ia bertanggungjawab dan ia bertanggungjawab krn ia merdeka.

5. Deduksi cacat: Barangsiapa sering memberi sumbangan, maka dia pasti org baik. Andi pasti orang baik.

6. Pikiran simplistis: Karena ia tidak beragama, maka ia pasti tidak bermoral.



MENGHINDARI PERSOALAN

1. Argumentum ad hominem: Jangan percaya omongannya krn ia bekas narapidana.

2. Argumentum ad populum: Anda lihat banyak ketidakadilan dan korupsi, maka Partai Nasdem adalah partai masa depan kita.

3. Argumentum ad misericordiam: Seorg terdakwa meminta keringanan hukuman krn mengaku punya banyak tanggungan.

4. Argumentum ad baculum: Karena beda pendapat, suka meneror org lain.

5. Argumentum ad auctoritatem: Mengutip pendapat Freud mengenai psikoanalisa.

6. Argumentum ad ignorantiam: Bila tidak bisa dibuktikan bahwa Tuhan itu ada, maka Tuhan tidak ada.

7. Argumen utk keuntungan seseorang: Seorang pengusaha berjanji mau membiayai kuliah, bila mahasiswi mau dijadikan isteri.

8. Non causa pro causa: Org sakit perut setelah menghapus sms berantai, maka dia menganggap itu sbg penyebabnya.



KESESATAN RETORIS

1. Eufemisme/disfemisme: Pembangkang yg dianggap benar disebut reformator. Bila tdk disenangai maka disebut anggota pemberontak.

2. Penjelasan retorik: Dia tidak lulus krn tidak teliti mengerjakan soal.

3. Stereotipe: Orang Jawa penyabar. Orang Batak suka menyanyi.

4. Innuendo: Sy tdk mengatakan makanan tdk enak, tapi mau mengatakan lukisan itu bagus.

5. Loading question: Apakah Anda masih tetap merokok?

6. Weaseler: Tiga dari empat dokter menyarankan bahwa minum itu memperlancar pencernaan.

7. Downplay: Jangan anggap serius omongannya krn dia hanya buruh bangunan.

8. Lelucon/sindiran:

9. Hiperbola: membesarbesarkan.

10. Pengandaian bukti:studi menunjukkan.

11. Dilema semu: Tamu yg menolak kopi, langsung disuguhi sirup.










Selasa, 23 September 2014

PERTEMUAN 4 LOGIKA DAN CRITICAL THINKING

LOGIKA

Logika = cabang filsafat yg mempelajari, menyusun, dan membahas asas2/aturan formal serta kriteria yg sahih bagi penalaran dan penyimpulan utk mencapai kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.
Logika merupakan suatu keterampilan untuk menerapkan hukum-hukum pemikiran dalam praktek.

OBJEK LOGIKA
Objek material logika adalah manusia itu sendiri.
Objek formal logika ialah kegiatan akal budi untuk melakukan penalaran yang tepat yang tampak melalui ungkapan pikiran melalui bahasa.

MACAM-MACAM LOGIKA 
Logika kodrat: suatu suasana saat akal budi bekerja menurut hukum logika secara spontan.
Logika ilmiah: berusaha mempertajam akal budi manusia agar dapat bekerja lebih teliti atau tepat, sehingga kesesatan dapat dihindari.
Logika Formal : Sebuah argumen dikatakan mempunyai kebenaran bentuk, bila konklusinya kita tarik secara logis dari premis atau titik pangkalnya dengan mengabaikan isi yang terkandung dalam argumentasi tersebut.

MANFAAT BELAJAR LOGIKA

1.Membantu setiap orang untuk mampu berpikir kritis, rasional, metodis.
2.Kemampuan meningkatkan kemampuan bernalar scr abstrak.
3.Mampu berdiri lebih tajam dan mandiri.
4.Menambah kecerdasan berpikir, shg bs menghindari kesesatan dan kekeliruan dlm menarik kesimpulan.


LOGIKA INDUKTIF

 Logika/Penalaran induktif = cara kerja ilmu pengetahuan yg bertolak dr sejumlah proposisi tunggal/partikular tertentu utk menarik kesimpulan umum tertentu. Proses induksi mulai berdasar kejadian2, gejala partikular. Penal induksi = proses penalaran berdasarkan pengertian partikular/premis utk hasilkan pengertian umum/kesimpulan
Tiga ciri penalaran induktif:
1) Premis penal induktif =proposisi empiris yg ditangkap indera
2) Kesimpulan dlm penalaran induksi lebih luas drpd apa yang dinyatakan dlm premis
3) Meski kesimpulan tak mengikat, tapi manusia menerimanya

GENERALISASI INDUKTIF

Proses penalaran berdasarkan pengamatan atas gejala dg sifat tertentu utk menarik kesimpulan ttg semua. Prinsip = Apa yg terjadi beberapa kali dlm kondisi tertentu dpt diharapkan akan selalu terjadi bila kondisi yg sama terpenuhi.

Tiga syarat membuat generalisasi:
1) Tdk terbatas scr numerik, tdk boleh terikat pd jumlah tertentu
2) Tdk terbatas scr spasio temporal, hrs berlaku dimana saja.
3) Dpt dijadikan dasar pengandaian
ANALOGI INDUKTIF 
Analogi = bicara ttg dua hal yg berbeda dan dibandingkan. Dua hal perlu diperhatikan: persamaan dan perbedaan.Bila memperhatikan persamaan saja, maka timbul analogi. Maka analogi induktif – proses penalaran utk menarik kesimpulan ttg kebenaran suatu gejala khusus berdasarkan kebenaran gejala khusus yg lain yg punya sifat esensial yg sama. Kesimpulan analogi induktif tdk bersifat universal tapi khusus.
DEDUKTIF 

Desuksi sebaliknya juga merupakan suatu proses tertentu dalam proses itu akal budi kita menyimpulkan pengetahuan yang lebih ‘khusus’ dari pengetahuan yang lebih ‘ umum’ . yang lebih khusus itu sudah termuat secara implisit dalam pengetahuan yang lebih umum.  Induksi dan deduksi selalu berdampingan, keduanya selalu bersama-sama dan saling memuat. Induksi tidak dapat ada tanpa deduksi. Deduksi selalu di jiwai oleh induksi . dalam proses memperoleh ilmu pengetahuan , induksi biasanya mendahuli deduksi . sedangkan dalam logika biasanya deduksi yang terutama di bicarakan lebih dahulu. Deduksi di pandang lebih penting untuk latihan dan perkembangan pikiran


CRITICAL THINKING

Berpikir kritis adalah merasionalisasi kehidupan manusia dan secara hati-hati mengamati/ memeriksa proses berfikir sebagai dasar untuk mengklaridikasi dan memperbaiki pemahaman kita tentang sesuatu.

KARAKTERISTIK BERPIKIR KRITIS

1. Rasional, Reasonable, Reflektif= Berdasarkan alas an-alasan dan bukti-bukti, bukan atas dasar keinginan pribadi.

Contoh : Sarah, memutuskan untuk menjadi perawat. setelah menonton film yang menunjukkan perawat sebagai seseorang yang menarik dan heroik. Ani, yang berpikir lebih kritis, menanyakan konselor tentang pekerjaan yg tersedia sebagai seorg perawat. Ia juga berbicara dengan beberapa org perawat. Setelah memperoleh dan menimbang fakta2, ani memutuskan untuk masuk pendidikan keperawatan

2. Melibatkan Skepticism yang sehat dan konstruktif = Tidak menerima atau menolak ide2, kecuali karena mengerti hal tersebut Menaati peraturan setelah berpikir panjang dg mencari pemahaman, merasionalisasikannya, mengikuti yang masuk akal, dan bekerja untuk memperbaiki yang tidak masuk akal.

Contoh: Ketika seorang salesmen mendesak bahwa sebuah model abocath baru lebih baik daripada yang lama, Perawat Lia menanyakan :” Apa yang anda maksud dengan ‘lebih baik’? Informasi apakah yang anda miliki untuk menunjukkan/ membuktikan hal tersebut?”

3. Otonomi = Tidak mudah dimanipulasi. Berpikir dengan pikiran sendiri, dibandingkan diarahkan oleh anggota grupnya.

Contoh: Di keluarga Lin, tidak seorg pun berpendidikan tinggi. Walaupun saudara perempuannya tidak mengerti mengapa ia berupaya keras untuk kuliah, Lin berkata:”Saya sudah memikirkannya, dan hal ini adalah yang ingin saya lakukan. Saya percaya segala upaya saya akan berguna kelak”

4. Kreatif = Menciptakan ide2 orisinal dengan cara menghubungkan pemikiran2 dan konsep. Contoh: Perawat Linda mengingat sebuah lagu yang dinyanyikan ibunya dulu disaat ia merasa takut, dan dengan menyanyikan lagu itu, ia mampu menenangkan anak2 yang dirawat RS

5. Adil = Tidak bias atau berpihak

Contoh: Perawat Rita, Karu, perlu membuat untuk Liburan Natal dan Tahun Baru sebelum berespon terhadap permintaan individual staf untuk libur. Ia menanyakan pada stafnya untuk menyatakan pilihannya setelah ia mampu menentukan jumlah staf yang ia butuhkan untuk kedua liburan tersebut

6. Dapat dipercaya dan dilakukan =

· Memutuskan tindakan yang akan dilakukan;

· Membuat observasi yang dapat dipercaya;

· Menegakkan kesimpulan secara tepat;

· Mengatasi masalah dan mengevaluasi kebijakan, tuntutan dan tindakan.



5 MODEL BERPIKIR KRITIS

T : Total Recall

H : Habits

I : Inquiry

N : New ideas and Creativity

K : Knowing how you think



PERTEMUAN 4

hai semua, pada pertemuan ke 4 ini ada banyak teori yang akan saya jelaskan yaitu tentang subjektivisme dan objektivisme, konfirmasi dan inferensi, logika dan critical thinking.

SUBYEKTIVISME DAN OBYEKTIVISME
SUBYEKTIVISME
ciri-ciri pendekatan subyektivisme 
  • menggagas pengetahuan sebagai suatu keadaan mental yang khusus misalnya sejarah, kepercayaan-kepercayaan lain dst 
  • pengalaman subyektif sebagai titik tolak pengetahuan dari data inderawi diri sendiri 
  • prinsip subyektif tentang alasan cukup, karena pengalaman bersifat personal, benar secara pasti dan meyakinkan karena berlaku sebagai pengetahuan langsung dari diri subjek 
  rene descartes Cogito ergo sum cogitans: saya berpikir maka saya adalah pengada yang berpikir.Descartes menolak skeptisme yang membawanya justru ke arah subyektivisme.
Sikap dasar skeptisisme adalah kita tidak pernah tahu tentang apa pun. Descartes seorang rasionalis.Baginya rasio atau pikiran adalah satu-satunya sumber dan jaminan kebenaran pengetahuan. Descartes meragukan pengalaman inderawi dalam menjamin kebenaran pengetahuan, termasuk pengetahuan ttg dunia luar kita.

  • Realisme Epistemologis: berpendapat bahwa kesadaran menghubungkan saya dengan “apa yg lain” dari diri saya. 
  • Idealisme Epistemologis: berpendapat bahwa setiap tindakan mengetahui berakhir di dlm suatu ide, yg merupakan suatu peristiwa subyektif murni.

OBYEKTIVISME
obyektivisme adalah suatu pandangan yang menekankan bahwa butir-butir pengetahuan manusia dari soal yang sederhana sampai teori yang kompleks mempunyai sifat dan ciri yang melampaui (di luar) keyakinan dan kesadaran individu (pengamat). Obyektivisme merupakan pandangan bahwa obyek yang kita persepsikan melalui perantara indera kita itu ada dan bebas dari kesadaran manusia. Objektivisme ini beranggapan pada tolak ukur suatu gagasan berada pada objeknya. Objektivisme diartikan sebagai pandangan yang menganggap bahwa segala sesuatu yang difahami adalah tidak tergantung pada orang yang memahami
pendukung pandangan ini: 

    popper, latatos dan marx

3 PANDANGAN DASAR OBJETIVISME 
  1. kebenaran itu independen terlepas dari pandangan subjektif
  2. kebenaran itu datang dari bukti faktual 
  3. kebenaran hanya bisa didasari dari pengalaman inderawi 
pandangan ini sangat dekat dengan positivisme dan empirisme


Pengetahuan dalam pengertian Objektivis:
  • sepenuhnya independen dari klaim seseorang untuk mengetahuinya ;
  • Pengetahuan itu terlepas dari keyakinan seseorang atau kecenderungan untuk menyetujuinya atau memakainya untuk bertindak. 
  • Pengetahuan dalam pengertian obyektivis adalah pengetahuan tanpa orang: ia adalah pengetahuan tanpa diketahui subjek.” (Karl R. Popper)
Perlu mengingat pembedaan antara obyek khusus dan obyek umum.
  • Obyek khusus merupakan data yang ditangkap hanya oleh satu indera. Misalnya, warna, suara, bau. 
  • Obyek umum merupakan data yang dapat ditangkap oleh lebih dari satu indera. Misalnya keluasan dan gerakan yang dapat dilhat dan diraba atau oleh indera lainnya.


KONFIRMASI, INFERENSI & KONSTRUKSI TEORI  

KONFIRMASI
konfirmasi adalah penegasan, memperkuat. Berhubungan dg filsafat ilmu, maka fungsi ilmu pengetahuan adalah menjelaskan, menegaskan, memperkuat apa yang didapat dari kenyataan/fakta. Sifatnya lebih interpretatif dan memberi makna ttg sesuatu. Ada 2 aspek konfirmasi: kuantitatif dan kualitatif.Untuk memastikan kebenaran, ilmu pengetahuan mengemukakan konfirmasi aspek kuantitatif. Misalnya membuat penelitian dengan mengumpulkan sebanyak mungkin sampel, yg akhirnya membuat suatu kesimpulan yg bersifat umum (generalisasi). Konfirmasi berupaya mencari hubungan yg normatif antara hipotesis (kesimpulan sementara) yg sudah diambil dengan fakta-fakta (evidensi).

3 JENIS KONFIRMASI 
  1. decision theory: kepastian berdasarkan keputusan ‘apakah hubungan antara hipotesis dengan fakta punya manfaat aktual’?
  2. estimation theory: menetapkan kepastian dg memberi peluang benar-salah melalui konsep probabilitas. Mis. statistik.
  3. reliability theory: menetapkan kepastian dg mencermati stabilitas fakta/evidensi yg berubah-ubah terhadap hipotesis.
INTERFERENSI

Kata inferensi artinya penyimpulan.Penyimpulan diartikan sebagai proses membuat kesimpulan (conclusion). —Dengan demikian, inferensi dapat didefinisikan sebagai suatu proses penarikan konklusi dari satu atau lebih proposisi (keputusan)
JENIS INTERFERENSI
1.Inferensi Langsung ialah penarikan kesimpulan (konklusi) hanya dari sebuah premis (pernyataan). Premis yaitu data, bukti, atau dasar pemikiran yang menjamin terbentuknya kesimpulan.Dengan demikian, kesimpulan adalah pernyataan yang dihasilkan sesuai dengan premis-premis yang tersedia dan berhubungan secara logis dengan pernyataan tersebut. Konklusi yang ditarik tidaklah boleh lebih luas dari premisnya. 
2. Inferensi Tidak Langsung adalah penarikan kesimpulan (konklusi) dengan menggunakan dua premis. —Konklusi tidaklah lebih umum dari pada premis-premisnya.
—Premis-premis merupakan proposisi-proposisi yang digunakan untuk membuat konklusi.
—Proposisi-proposisi yang menjadi premis-premis dalam suatu silogisme disebut antesendens, sedangkan proposisi yang menjadi konklusi disebut konsekuens.
HUKUM INTERFERENSI 
1.Kalau premis-premis benar, maka kesimpulan benar. 
2.Kalau premis-premis salah, maka kesimpulan dapat salah, dapat kebetulan benar.  
3.Bila kesimpulan salah, maka premis-premis juga salah. 
4.Bila kesimpulan benar, maka premis-premisnya dapat benar, tetapi dapat juga salah. 



KONSTRUKSI TEORI
Defenisi: teori=model/kerangka pikiran yg menjelaskan fenomen alami/sosial tertentu.Teori dirumuskan, dikembangkan, dievaluasi menurut metode alamiah. Dibangun dengan abstraksi generalisasi dan deduksi probabilistik dan deduksi apriori (spekulatif).

3 MODEL KONSTRUKSI TEORI
       Model korespondensi: kebenaran sesuatu dibuktikan dengan menemukan relevansinya dengan yang lain.
       Model koherensi: sesuatu dipandang benar bila sesuai dengan moral tertentu. Mementingkan kesesuaian antara kebenaran obyektif –rasional universal dan kebenaran moral/ nilai. Model ini digunakan dalam pendekatan fenomenologis.
       Model paradigmatis: Konsep kebenaran ditata menurut pola  hubungan yang beragam, menyederhanakan yang kompleks.

ALIRAN DALAM KONSTRUKSI TEORI
  Reduksionisme: teori itu suatu pernyataan yg abstrak, tdk dpt diamati scr empiris, dan tdk dpt diuji langsung.
  Instrumentalisme:  teori adalah instrumen bagi pernyataan observasi agar terarah dan terkonstruksi.
  Realisme: teori dianggap benar bila real, scr substantif ada,  bukan fiktif.



Senin, 22 September 2014

PERTEMUAN 3

EPISTEMOLOGI

Epistemologi adalah kata, pikiran, percakapan tentang pengetahuan/ cabang filsafat yang mempelajari tentang pengetahuan.

SIFAT EPISTEMOLOGI
  • secara kritis = mempertanyakan/menguji cara kerja, pendekatan, kesimpulan yang ditarik dalam kegiatan kognitif manusia
  • secara normatif = menentukan tolak ukur/norma penalaran tentang kebenaran pengetahuan
  • secara evaluatif = menilai apakah suatu keyakinan pendapat suatu teori pengetahuan dapat dipertanggung jawabkan dan dijamin kebenarannya secara logis dan akurat
JENIS PENGETAHUAN
pengetahuan memiliki subjek dan objek. pengetahuan bertautan erat dengan kebenaran, 
tiga jenis pengetahuan: 
  1. pengetahuan biasa = disebut pra-ilmiah karena hasil pencerapan indrawi dan hasil pemikiran rasional yang masih harus diuji lebih lanjut kebenarannya. 
  2. pengetahuan ilmiah = diperoleh lewat metode ilmiah dan dapat dijamin kepastiannya
  3. pengetahuan filsafat = pemikiran rasional yang didasarkan pada pemahaman dan pemikiran logis, analitis dan sistematis.
SUMBER-SUMBER PENGETAHUAN

    
  •  plato, descartes, spinoza dan leibniz = akal budi atau rasio

    

  • bacon, hobbes, locke = pengalaman inderawi, seluruh ide konsep manusia berasal dari pengalaman dan bersifat aposteriori (pengetahuan yang didapat melalui pengalaman). ide manusia berasal dari sensasi, refleksi terhadap ide sensatif itu


  • immanuel kant = walau ide dan konsep apriori (sumber pengetahuan yang didapat sebelum pengalaman), ia bisa diaplikasikan bila ada pengalaman. akal budi manusia bisa berfungsi bisa dihubungkan dengan pengalaman.
jadi dasar dan sumber pengetahuan manusia yaitu dari =
  1. pengalaman manusia 
  2. ingatan 
  3. penegasan tentang apa yang diobservasi 
  4. minat dan rasa ingin tahu 
  5. pikiran dan penalaran 
  6. logika
  7. bahasa 
  8. kebutuhan hidup manusia  
METODE UNTUK MEMPEROLEH PENGETAHUAN.
  • metode empirisme = memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman
  • metode rasionalisme = memperoleh sumber pengetahuan dilandasi pada akal.
  • metode fenomenalisme = memperoleh sumber ilmu pengetahuan dengan menggali pengalaman dari dirinya sendiri
  • metode intuisionisme = memperoleh sumber pengetahuan dengn menggunakan sarana intuisi untuk mengetahui secara langsung

STRUKTUR ILMU PENGETAHUAN
  1.  kesadaran/subjek = berperan sebagai yang menyadari/mengetahui
  2. objek = berperan sebagai yang disadari/ diketaui 
hubungan subjek dan objek menghasilkan ilmu pengetahuan

 TEORI KEBENARAN DALAM ILMU PENGETAHUAN
  • teori kebenaran korespondensi = kebenaran yang terjadi apabila subjek yakin bahwa objek sesuai dengan kenyataan. sifat kebenaran korespondensi adalah subjektif 
  • teori kebenaran koherensi = kebenaran yang terjadi apabila ada kesesuaian pendapat dari beberapa subjek terhadap objek
  • teori kebenaran pragmatik = kebenaran yang terjadi apabila sesuatu memiliki kegunaan
  • teori kebenaran konsensus = kebenaran yang terjadi apabila ada kesepakatan yang disertai alasan tertentu
  • teori kebenaran semanitk = kebenaran yang terjadi apabila orang mengetahui dengan tepat tentang arti suatu kata.

KEBENARAN
kebenaran sebagai sifat pengetahuan disebut kebenaran epistemologis. secara umum kebenaran dimengerti sebagai kesesuaian antara apa yang dipikirkan atau pengetahuan/ pernyataan yang sesuai dengan kenyataan
  •    menurut plato kebenaran terletak pada objek yang diketahui atau pada apa yang dikejar untuk diketahui. 
  •   menurut aristoteles kebenaran lebih memusatkan perhatian pada kualitas pernyataan yang dibuat oleh subyek penahu ketika dirinya menegaskan suatu putusan entah secara afirmatif atau negatif.
  • menurut kaum positivisme logis bahwa kebenaran dibedakan menjadi 2 yaitu kebenaran faktual dan kebenaran nalar. 
  1. Kebenaran faktual = kebenaran tentang ada tidaknya secara faktual d idunia nyata yang dialami manusia. kebenaran faktual sebagi kebenaran yang menambah khazanah pengetahuan kita tentang alam semesta sejauh dapat kita alami secara inderawi. kebenaran faktual kepastiannya tidak pernah mutlak dan tetap dianggap benar sampai ada alternatif lain yang mengantikannya.
  2. kebenaran nalar = kebenaran yang bersifat tautologi (pengulangan gagasan) dan tidak menambah pengetahuan baru mengenai dunia, tetapi dapat menjadi sarana yang berdaya guna untuk memperoleh pengetahuan yang benar tentang dunia. kebenaran nalar dapat membantu untuk memperoleh kebenaran faktual. kebenaran nalar sebagai kebenaran yang terdapat dalam logika dan matematika. kebenaran didasarkan pada penyimpulan deduktif. kebenaran nalar bersifat mutlak.
  •   thomas aquinas membagi kebenaran menjadi 2 yaitu kebenaran ontologis dan kebenaran logis 
  1. kebenaran ontologis  = kebenaran yang terdapat dalam kenyataan, entah spiritual atau material
  2.  kebenaran logis = kebenaran yang terdapat dalam akal budi manusia dalam bentuk kesesuaian antara akal budi dengan kenyataan
KEDUDUKAN KEBENARAN
kebenaran pengetahuan dalam pandangan platonis terletak dalam objek atau kenyataan yang diketahui. sedangkan aristotelian dalam dalam subjek yang mengetahui. kedudukan kebenaran dalam tradisi aristotelian lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
  • kaum eksistensial = kebenaran merupakan apa yang berharga bagi subjek konkrit dan pantas untuk dipegang teguh dengan penuh kesetiaan
  • kebenaran ilmiah = bersifat eksternal terhadap subjek maka kebenaran eksistensial bersifat intenal terhadap subjek.
kebenaran akhirnya berada dalam relasi antar subjek yang mengetahui dan objek yang diketahui